Untuk Lelaki

: untuk lelaki
Segagah dan setampan apapun,

sekaya dan semapan apapun,

akan ada saat kau bukan sesiapa,

bila tetap bersendiri.
Sekokoh apapun bahumu,

setegak apapun berdirimu,

akan ada yang dipertanyakan,

siapa yang hendak sedia dan setia disana bersandar,

siapa yang kau rengkuh untuk mendampingimu berjalan.
Maka persunting seorang perempuan,

berjanjilah setia untuk membahagiakan dan menjadi imam yang memapahnya menuju surga.
Kau tahu kenapa begitu?

Karena memahami (perempuan) adalah pekerjaan tidak mudah,

perlu keberanian dan keyakinan,

setelah gagah dan tampan,

setelah berpenghasilan dan mapan,

setelah kau rasa sendiri pun akan mampu bertahan menaklukan kehidupan.
Bahkan sesekali kau harus menjelma jadi perempuan itu sendiri,

untuk kemudian tahu apa yang dirasakannya,

lantas kelemahlembutan, kepandaianmu menghargai dengan sanjungan,

menyamarkan kekecewaan untuk menjaga

kesakithatian,

menjadi hal yang harus dipelajari perlahan.
Mungkin sulit, berat dan kadang menjemukan.

Namun mereka yang hebat tidak akan

meninggalkan,

berpikir ulang untuk melepaskan ikatan.
Karena yang mendampingimu perempuan,

ia dan perasaannya,

berbeda

dengan apa yang kau pikirkan.
08.56

17 Juni 2017

Pernahkah Begini

Pernahkah,

mencintai seseorang sebelum pertemuan,

atau sekedar dari percakapan tulisan?
Aku yang pernah,

dan masih mencintainya meski setelah pertemuan kemudian ditinggalkan.
Indahnya sebuah perasaan yang begitu berbunga-bunga,

hingga rasanya dihantam petir,

kemudian jatuh ke jurang yang paling curam dan dalam.

Perihnya sakit yang amat mengiris,

tetap menjadi kenang yang tak terlupakan.
Kadang terlintas di ketidakmungkinan,

kau mencari dan menemuiku,

lantas mengulang semua dan memperbaiki yang tak mesti terjadi.
Aku mencintainya,

menginginkan dia tidak hilang seperti sekarang.
04.51

15 Juni 2017

Adikku Sayang

Dik, kala seorang kakak berharap dihargai

jangan tanya harganya berapa,

karena sampai kapanpun takkan kau temukan angka yang tepat.
Kini kau sedang beranjak dewasa, Dik.

Selepas kau paham bahwa mencintai harus berjuang dalam sabar untuk sampai pada ijab halal,

pahami pula ada kasih yang tak henti memberi

meski tak berupa materi,

ada sayang yang takkan lekang

meski jarak dan waktu kerap memisahkan.
Dik, ketika kau ingin dipahami dengan pembiaran,

barangkali menyayangi yang paling tepat

adalah diam atas keputusan-keputusan yang kau pandang paling benar,

dan menanti sampai kau sadar,

bahwa mandiri bukan artinya tak lagi peduli pada orang-orang yang membersamaimu selama ini.
Hati-hati melangkah ya Dik,

mengendalikan diri itu mencegah lebih banyak kasih yang tersakiti,

karena luka yang membekas

menyiratkan sakit teramat perih.
Alloh selalu ada untuk mereka yang senantiasa bergantung padaNya,

rapalkan segala khawatirmu pada tengadah doa,

lantas berikhtiarlah dalam tawakal.

Dik,

semoga engkau tumbuh bukan lupa pada akar,

mendewasa bukan untuk jumawa.
06.43

14 Juni 2017

Keinginan-keinginan

Sederhana saja keinginan-keinginanku,

setelah sebuah rasa yang pernah begitu besar pun,

akhirnya karam.
Keinginanku sekedar ingin senantiasa

bahagia dalam taat,

istiqomah dalam benar,

khusnul khotimah saat pulang,

dimudahkan dalam hisab,

dan dianugerahi surga sebagai peristirahatan.

Begitu.
03.32

13 Juni 2017

Kala Magrib

Sayang, adzan Magrib sudah berkumandang,

ini saatnya buka,

mari makan.
Lantas kau bilang ingin bala-bala?

Ini sudah adzan, makanan sudah terhidang,

dan aku bisa apa?
Padahal puncaknya lapar itu akan menjadi indah saat kita menyegerakan buka

saat tepat waktunya tiba.

Aku menyuap sebutir kurma, mengambil kerudung dan beeanjak mencari pedagang bala-bala.

Semoga saja belum tutup.

Memang tidak jauh untuk ditempuh,

tidak melelahkan pula.

Namun ini kurasa amat tega,

sudah berharap segera makan tapi tertunda.

Ah menyebalkan, mood makanku nyaris hilang.
Entahlah, inilah menu berbukaku barangkali,

eneknya dalam hati yang tetap tidak boleh membuatku mengeluh,

tidak boleh membuatku cemberut,

tetap ikhlas dan harus bersyukur.
“Ini tidak seberapa, lain waktu akan ada yang lebih menyebalkan lagi sebagai ujian kadar sabarmu” hiburku pada diri sendiri.
Selamat santap makanan buka.
18.14

12 Ramadhan 1438

6 Juni 2017

Bara dalam Tatapanku

Benar, tempo hari pernah begitu rapuh,

mungkin sejak kau remehkan aku belajar tangguh.
Memang, sehari-hari tampak lemah,

mungkin kau takkan menemukanku marah.
Namun maaf,

akan ada saat bara terpancar dari sekedar tatapanku,

meski tanpa ucap,

akan tersirat sesuatu yang terpendam

bukan berarti tak akan pernah meluap.
4 Juni 2017

Asa

pada elok cahaya ingin kugapai asa,

meski di sedikit harapan

ada banyak kekuatan

yang mengukuhkan.
semoga,

entah kapan.

terang cahaya tiba di haribaan,

mengantarkan asa yang dinantikan.
4 Juni 2017

Karena Kita Terus Tumbuh

Karena kita terus tumbuh

Semesta pun banyak yang berubah

Memandang masa lalu

layaknya halaman tempat ingatan berlarian

 

meski matahari masih terbit di timur

meski musim masih tentang kemarau dan hujan

meski senyum penuh semangat tak pernah luntur

meski cita-cita ada yang sudah tercapai dan belum
Ada yang tak pernah bisa berulang

Ada yang tak bisa ditawar

Ada yang berlalu

Ada yang meninggalkan

Ada yang terpisah begitu saja

Ada yang hilang

Terhapus

dan terlupakan.
Karena kita terus tumbuh

Semesta pun berubah

Dari pucuk, dedaun, mengering,

terjatuh, merebah dipeluk tanah.

Air tetap mengalir,

udara tetap berhembus.
Aku tetap mengenang.

Jenazah rasa yang rapi tersimpan dalam diam.
Karena kita terus tumbuh,

hidup,

dan harus bertahan.
🙂

2 Juni 2016

Diam

Berhenti bersuara keras, menghardik, atau membentak,

sungguh itu cacat di telinga,

menyakiti hati dan menyebalkan.
Adakah seorang pesalah berhak diperlakukan begitu,

apalagi kita belum sepenuhnya benar,

atau memang saat itu sedang merasa marah sebagai keharusan?

Saya muak,

dan akan mengabaikan semuanya,

bahkan menganggap suara itu tak ada.
Begini kalau ingin didengar,

perdengarkanlah santun kata yang paling elok untuk ditanggapi.

Atau saya diam,

karena itulah teriak paling keras dari dalam hati.

imsak

04.37

1 Juni 2017

Debar Gemetar

Waktu ini sedikit,

debar gemetarnya yang lama,

antara menantimu,

dan ketakutan segala tuntutan.
Kopi yang kuseduh tetiba lenyap,

sekedar mengalir di tenggorokan dan entah kemana,

debar gemetar masih mendera,

menatap jendela,

antara ketakutan kau segera datang,

dan rindu kesendirian.
Begitu sebentarnya waktu,

pagi yang tiba-tiba petang,

siang yang tahu-tahu malam,

pergi yang tiba-tiba datang.

Ketakutan demi ketakutan,

kesendirian yang kumaknai sebagai keadaan nyaman, kemerdekaan hati tentang menentukan segala perasaan.

16.13

23 Mei 2017

#kembalimenatadiksi #menganyamkatadalampuisi