Mari Kita Renungkan

Seberapapun berharganya uang,

saat didapat sekedar menjadi alat tukar.

Uang bisa dicari,

lain dengan waktu yang tak bisa diulang.

Begitupun alasan,

akan mudah dicari sebagai pembenaran.

Tapi hati yang kecewa

akan tetap mengenang,

saat ia merasa terabaikan.

*Dari draft yang entah kapan, pengen aja dipublish malam ini

Advertisements

Jangan Begitulah

Kita dekat, saya paham.

Kita saudara, saya sadar.

Kita bermasalah, saya pun ingat.

Berat?

Ya.

Saat pintamu tak terjawab,

(karena saya yakin kau takkan terima penolakan)

oleh karenanya saya diam,

memilih waktu yang tepat dan bahasa yang pantas ternyata tidak mudah.

Sementara kau mengerutu dalam status media sosialmu,

kenapa?

Apa itu yang terbaik?

Untuk ini saya tak paham.

Berharap, jangan begitulah.

Apa untungnya semua tahu tentang kita.

Mereka diharapkan peduli?

Atau sengaja menohokku dengan cara demikian?

Sekali lagi saya tak paham,

media sosial itu sangat luas jangkauannya,

efeknya juga tak terbatas.

Mungkin dalam ingatanku pun akan senantiasa membekas.

Saya tak paham,

sementara aku diam,

kau pun diam,

dalam status kau berkoar.

Menyakitkan.

Tapi biarlah. Itu caramu yang harus kumaklumi.

Dan caraku adalah pembiaran dan semakin diam.

23.06

21 Mei 2018

Adalah Aku

Adalah aku yang paling tidak bisa menerima kepergianmu,

ada rasa yang entah apa sejak keharusan berpisah,

sebentar marah, sebentar sedih, sebentar berpura biasa aja,

hendak menampakkan duka itu benar-benar tersekat gengsi, jadilah marah,

tak menerima pamit dan uluran tanganmu,

maaf…

adalah aku yang paling tidak bisa menerima kepergianmu,

namun satu hal yang menghiburku,

semoga nanti ketika memungkinkan kau tak lupa untuk mengajakku menyertaimu.
04.38

9 Januari 2018

Aura Matahari

Ada aura cahaya yang tetap terang

dalam setiap kelebat terbayang,

elok segala yang terpancar

begitu lekat tersimpan dalam ingatan.

Sekian kali melupakan tak pernah membuat bayangmu hilang.

Kadang tersenyum, kerap menangis,

untuk kenang yang tetap terkenang.

Tentang kamu yang berlalu dan tetap tinggal.
5 Jan 2018

12.16

Selamat Datang Tahun 2018

1 Januari 2018 adalah babak baru kehidupanku, berikut beberapa resolusi untuk perbaikan diriku di tahun ini:

– Saya merasa harus offline facebook, media sosial yang satu ini berandanya selalu menarik perhatian dan menyita banyak waktuku. Semoga bisa untuk waktu yang lama.

– Saya harus lebih jeli mengukur pengeluaran uang, menghitung penggunaan waktu dan melawan malas yang terkadang memacuku untuk menyelesaikan sesuatu dengan mudah.

– Saya ingin lebih sabar dalam keluarga baruku, selalu mematuhi suami dan mencintainya sepenuh hati,mendorong dan mengajaknya pada kebaikan dan membanyakkan kedekatan dengan Alloh SWT.

– Saya ingin lebih dewasa tapi tidak lebih tua dari usia, karena bijak itu perlu dan selalu tampil lebih muda akan lebih menyemangati orang terdekat, suami misalnya.

– Saya ingin dipermudah rezeki, dilapangkan hati sehingga di ringankan untuk banyak berbagi.

– Semoga saya mampu melalui masa kehamilan dengan tidak banyak keluhan, senantiasa dibantu orang-orang yang menyayangiku dengan sabar sampai proses melahirkan, pengurusan, pengasuhan dan pendidikan anak pertamaku dan selanjutnya.

– Semoga saya semakin optimis, tidak banyak takut, diberi kecerdasan berpikir saat harus dihadapkan pada hal-hal sulit, tidak mudah menyerah, mampu mengendalikan emosi meski bukan mematikan emosi sama sekali.

– Semoga bisa bekerja lebih baik di tempat kerja dan di rumah sendiri.

– Semoga tidak terganggu lagi dengan masa lalu dan banyak lagi perihal rindu.

Ini 2018, saya sudah menikah, saya akan segera melahirkan putra pertama, dan saya harus mempertahankan bahtera rumah tangga ini dengan tetap tidak mengesampingkan komitmen di tempat kerja.

SEMANGAT perubahan!

Perbanyak ibadah, baikkan akhlak, tetap bersangka baik dan optimis.

Alloh (dulu), Alloh (lagi), Alloh (terus)…

Aamiin…

Cianjur, 1  Januari 2018

23.41

(Entah kenapa terbangun jam segini, cuma buat nulis ini. Ckckck)

Setelah serba badai dalam hidup membuatku terdampar di sisimu,

disinilah kembali aku memulai hidup,

mengenal sandaran meski tak sekokoh yang kubayangkan,

menemukan banyak gelap dan selaksa kecewa yang membuatku tak berdaya.
Aku harus bagaimana Tuhan?

Pada sebuah keberpasrahan kerap ada titik yang begitu membuatku nyaris terpeleset di lembah putus asa.

Kala berusaha benar terasa asing dan sendirian,

kala susah payah jatuh bangun dan tertatih berjuang tanpa kawan,

padahal disampingku ada kamu,

yang tak dipahami mengapa masih begitu terasa jauh.
Aku tak ingin mengeluh karena lelah,

meski memang itulah yang sekarang kurasa,

ingin menjerit mengais peduli,

meski akan sulit menemukan simpati.

Maka, pada Engkaulah muara segala suara dan doa.
Aku tidak selemah ini bukan?

Aku tidak benar-benar sendirian bukan?

Aku bukan seorang yang mudah putus asa bukan?

Ya, aku bukan seperti itu.

Bantu aku dan berilah kekuatan, Tuhan.
03.43

Cianjur, 5 Agustus 2017

Lagi-lagi Rindu

Pada sebuah keramaian, kerap kusempatkan dengan jeli menatap satu persatu setiap orang

Dalam hati kecil berharap salah satunya ada kamu

Seorang yang sekian kali kuingkari

Tetap menjamah ingatan

Menguak rindu yang lama kuperam
15.24

Cianjur, 3 Agustus 2017

Pengobat Rindu

Menemukan akun facebookmu cukup sedikitnya mengobati rinduku, tidak usah lagi kita berteman, cukup saja kutahu kau sedang berkeadaan bahagia dan tidak benar-benar menghilang entah kemana, raib tanpa jejak, lenyap ditelan semesta, kala kakiku melumpuh untuk mengejar, dan hanya mampu memupuk beribu rindu yang terlantar.
Mungkin kehadiran yang pernah ada, tetap sekedar pernah, tak boleh terulang lebih lama dan tak harus seperti kebersamaan dan kebersatuan yang kuinginkan.
Umpama pelangi, indah hanya sejenak, mengelokkan pandang, lantas pergi.

Begitupun kamu, datang sebentar, menyemai rasa sayang, melautkan rindu, lantas melukai.

Namun, sebuah pelajaran semakin membuatku paham, bahwa pelangi ada sekedar penyela, dan  yang pasti keberpisahan dan segala musim lebih harus kita hadapi masing-masing.
Mengenalmu semakin membuatku tahu sebuah keyakinan, suatu hari kita akan tiba pada satu titik temu, kemudian kusampaikan dengan tegar: bahwa rindu tak harus disampaikan, sayang tidak harus dibuktikan, cinta tidak harus dimiliki.



Cianjur, 29 Juli 2017

09.53