Setelah serba badai dalam hidup membuatku terdampar di sisimu,

disinilah kembali aku memulai hidup,

mengenal sandaran meski tak sekokoh yang kubayangkan,

menemukan banyak gelap dan selaksa kecewa yang membuatku tak berdaya.
Aku harus bagaimana Tuhan?

Pada sebuah keberpasrahan kerap ada titik yang begitu membuatku nyaris terpeleset di lembah putus asa.

Kala berusaha benar terasa asing dan sendirian,

kala susah payah jatuh bangun dan tertatih berjuang tanpa kawan,

padahal disampingku ada kamu,

yang tak dipahami mengapa masih begitu terasa jauh.
Aku tak ingin mengeluh karena lelah,

meski memang itulah yang sekarang kurasa,

ingin menjerit mengais peduli,

meski akan sulit menemukan simpati.

Maka, pada Engkaulah muara segala suara dan doa.
Aku tidak selemah ini bukan?

Aku tidak benar-benar sendirian bukan?

Aku bukan seorang yang mudah putus asa bukan?

Ya, aku bukan seperti itu.

Bantu aku dan berilah kekuatan, Tuhan.
03.43

Cianjur, 5 Agustus 2017

Lagi-lagi Rindu

Pada sebuah keramaian, kerap kusempatkan dengan jeli menatap satu persatu setiap orang

Dalam hati kecil berharap salah satunya ada kamu

Seorang yang sekian kali kuingkari

Tetap menjamah ingatan

Menguak rindu yang lama kuperam
15.24

Cianjur, 3 Agustus 2017

Pengobat Rindu

Menemukan akun facebookmu cukup sedikitnya mengobati rinduku, tidak usah lagi kita berteman, cukup saja kutahu kau sedang berkeadaan bahagia dan tidak benar-benar menghilang entah kemana, raib tanpa jejak, lenyap ditelan semesta, kala kakiku melumpuh untuk mengejar, dan hanya mampu memupuk beribu rindu yang terlantar.
Mungkin kehadiran yang pernah ada, tetap sekedar pernah, tak boleh terulang lebih lama dan tak harus seperti kebersamaan dan kebersatuan yang kuinginkan.
Umpama pelangi, indah hanya sejenak, mengelokkan pandang, lantas pergi.

Begitupun kamu, datang sebentar, menyemai rasa sayang, melautkan rindu, lantas melukai.

Namun, sebuah pelajaran semakin membuatku paham, bahwa pelangi ada sekedar penyela, dan  yang pasti keberpisahan dan segala musim lebih harus kita hadapi masing-masing.
Mengenalmu semakin membuatku tahu sebuah keyakinan, suatu hari kita akan tiba pada satu titik temu, kemudian kusampaikan dengan tegar: bahwa rindu tak harus disampaikan, sayang tidak harus dibuktikan, cinta tidak harus dimiliki.



Cianjur, 29 Juli 2017

09.53

Masihkah

Masihkah kemungkinan itu ada?

Pada debur ombak, hamparan pasir, angin semilir dan hawa pantai aku bercerita.

Aku ingin kau tetiba menemuiku,

dan kita kembali bercengkrama akrab.

Lupakan perihal kau siapa dan bagaimana,

atau aku siapa dan harusnya seperti apa.

Pada suatu rindu,

yang kuingin hanya,

satu kamu kedua temu.

Sudah, begitu.
08.17 pm

26 Juni 2017

Untuk Lelaki

: untuk lelaki
Segagah dan setampan apapun,

sekaya dan semapan apapun,

akan ada saat kau bukan sesiapa,

bila tetap bersendiri.
Sekokoh apapun bahumu,

setegak apapun berdirimu,

akan ada yang dipertanyakan,

siapa yang hendak sedia dan setia disana bersandar,

siapa yang kau rengkuh untuk mendampingimu berjalan.
Maka persunting seorang perempuan,

berjanjilah setia untuk membahagiakan dan menjadi imam yang memapahnya menuju surga.
Kau tahu kenapa begitu?

Karena memahami (perempuan) adalah pekerjaan tidak mudah,

perlu keberanian dan keyakinan,

setelah gagah dan tampan,

setelah berpenghasilan dan mapan,

setelah kau rasa sendiri pun akan mampu bertahan menaklukan kehidupan.
Bahkan sesekali kau harus menjelma jadi perempuan itu sendiri,

untuk kemudian tahu apa yang dirasakannya,

lantas kelemahlembutan, kepandaianmu menghargai dengan sanjungan,

menyamarkan kekecewaan untuk menjaga

kesakithatian,

menjadi hal yang harus dipelajari perlahan.
Mungkin sulit, berat dan kadang menjemukan.

Namun mereka yang hebat tidak akan

meninggalkan,

berpikir ulang untuk melepaskan ikatan.
Karena yang mendampingimu perempuan,

ia dan perasaannya,

berbeda

dengan apa yang kau pikirkan.
08.56

17 Juni 2017

Pernahkah Begini

Pernahkah,

mencintai seseorang sebelum pertemuan,

atau sekedar dari percakapan tulisan?
Aku yang pernah,

dan masih mencintainya meski setelah pertemuan kemudian ditinggalkan.
Indahnya sebuah perasaan yang begitu berbunga-bunga,

hingga rasanya dihantam petir,

kemudian jatuh ke jurang yang paling curam dan dalam.

Perihnya sakit yang amat mengiris,

tetap menjadi kenang yang tak terlupakan.
Kadang terlintas di ketidakmungkinan,

kau mencari dan menemuiku,

lantas mengulang semua dan memperbaiki yang tak mesti terjadi.
Aku mencintainya,

menginginkan dia tidak hilang seperti sekarang.
04.51

15 Juni 2017

Adikku Sayang

Dik, kala seorang kakak berharap dihargai

jangan tanya harganya berapa,

karena sampai kapanpun takkan kau temukan angka yang tepat.
Kini kau sedang beranjak dewasa, Dik.

Selepas kau paham bahwa mencintai harus berjuang dalam sabar untuk sampai pada ijab halal,

pahami pula ada kasih yang tak henti memberi

meski tak berupa materi,

ada sayang yang takkan lekang

meski jarak dan waktu kerap memisahkan.
Dik, ketika kau ingin dipahami dengan pembiaran,

barangkali menyayangi yang paling tepat

adalah diam atas keputusan-keputusan yang kau pandang paling benar,

dan menanti sampai kau sadar,

bahwa mandiri bukan artinya tak lagi peduli pada orang-orang yang membersamaimu selama ini.
Hati-hati melangkah ya Dik,

mengendalikan diri itu mencegah lebih banyak kasih yang tersakiti,

karena luka yang membekas

menyiratkan sakit teramat perih.
Alloh selalu ada untuk mereka yang senantiasa bergantung padaNya,

rapalkan segala khawatirmu pada tengadah doa,

lantas berikhtiarlah dalam tawakal.

Dik,

semoga engkau tumbuh bukan lupa pada akar,

mendewasa bukan untuk jumawa.
06.43

14 Juni 2017

Keinginan-keinginan

Sederhana saja keinginan-keinginanku,

setelah sebuah rasa yang pernah begitu besar pun,

akhirnya karam.
Keinginanku sekedar ingin senantiasa

bahagia dalam taat,

istiqomah dalam benar,

khusnul khotimah saat pulang,

dimudahkan dalam hisab,

dan dianugerahi surga sebagai peristirahatan.

Begitu.
03.32

13 Juni 2017