Sebab Sembab

Jangan tanya sebab mataku sembab,

semalam banyak hal yang kurahasiakan,

karena kuceritakanpun akan sulit paham,

jangan kamu,

aku juga tak paham.
Sudahlah, ada yang tak boleh kusia-siakan hari ini,

abaikan segala sebab yang menjadikan mataku sembab,

biar kunikmati pagi yang cerah dengan senyuman.
Tak peduli segelap apapun malam,

pagi dan kehadiran matahari adalah alasan yang membuat pikiran kembali terang,

jalanan membentang adalah harapan yang mengarahkan pada tujuan.

Terus melangkah, berbuat, bergerak dan senantiasa bersemangat.
Cianjur, 24 Maret 2017

10.14

Ini Malam

Ini malam saya lelah, kau dengar sendiri bukan, nada suaraku pada telepon tidak seperti biasanya, begitupun pikiranku.

Memahamiku sederhana, cukup biarkan saja dulu. Barangkali besok ada lagi waktu bercengkrama.

Ini malam saya sedang memikirkan banyak hal, mohon maaf bila memikirkanmu menjadi agenda terabaikan.

Jangan rindu, sementara redam saja dahulu,

tidak akan menyiksa dan menyakiti

kalau saja kau mampu menjinakkannya.
Ini malam, jangan menghubungi atau menemui.

Ini malam, sudah malam.

Aku sudah dibelenggu kantuk.

Selamat malam.
Cianjur, 23 Maret 2017

21.54

Satu Hari Setelah Lupa

Aku pernah begitu lupa, namun satu hari menemukan kembali banyak fotomu di album kembali menguatkan lagi ingatan.

Rasa, ialah kenangan yang tak bisa diingkari, semampu apapun kita menyamarkan.

Biar semua mengatakan ini kesalahan, hatiku berpegang inilah sebenar-benar yang kurasakan.

Silahkan tidak peduli, bersendirian sudah membuatku tercukupi.

Mata air dalam telaga pandanganku menyubur, mengawan terbendung, lalu berjatuhan.

Sakit adalah perkara luka yang kita izinkan menusuk dalam.

Jangan terlalu khawatir, setelah ini luka akan mengering dan tersembuhkan waktu.

Lagi-lagi melupakan, lalu mata terpejam.

Begitulah caraku melarikan resah.

Semoga kelak saat terbangun,

keadaan membaik, tidak sememperihatinkan ini.
Cianjur, 22 Maret 2017

01.55

Sepi ~ Kesepian

Adalah perkara yang hebat untuk dihadapi saat kita berhadapan dengan sepi,

apalagi ditambah imbuhan menjadi kata keadaan,

sebutlah kesepian.
Entahlah, saya begitu yakin setiap kita pernah mengalami ini.

Dan hebatnya mereka yang mampu mengkonversi sepi,

atau menemukan formula untuk mengurai kesepian.
Ajaibnya masing-masing berbeda dalam menyelesaikan kesepian,

ada yang bertanggungjawab atas keadaan itu sendirian,

menciptakan kondisi menyenangkan dengan menenggelamkan diri dalam kegiatan yang melejitkan potensi,

adapula yang akan merisaukan sekitar,

meneriakkan sepi seolah semua orang harus peduli,

atau menyalahkan siapapun yang melindungi diri dengan melebarkan jarak dengannya.
Sepi tinggal pada hati yang kosong,

maka hati yang penuh akan terhindar dari kesepian.
Yang paling benar adalah memenuhi hati dengan kehadiran Tuhan,

hendaknya dengan begitu kesepian enggan bertandang.
Sepi tidak harus membebani,

atau meresahkan banyak orang.

Karena mendekatkan diri pada Tuhan,

akan membantu kita mengenali

apa yang harus dilakukan untuk menghalau kesepian.
Cianjur, 18 Maret 2017

10.16 ~ hujan

Untukmu yang Merinduku

Beginilah saya, dalam serangkaian kegiatan biasa saja setiap harinya,

barangkali tidak terlalu istimewa,

hanya begitu dan begitu,

namun entahlah, terkadang sangat merasa sibuk dan menghabiskan waktu.
Lalu akan terbit perasaan bersalah untuk beberapa orang yang merinduku.

“Susah ya sekarang bertemu kamu, beda kalau sudah jadi orang penting, selalu banyak acara…”

Seloroh salah seorang diantaranya.
Meski pendiam, dalam banyak hal lebih memilih tak mengucap apa-apa,

bukan berarti saya tidak peka.

Mendapat celoteh semacam itu saya menanggapinya dengan tersenyum,

lalu kalau memungkinkan saya akan memeluk.

Dalam pada itu, suara hati saya berkata:

“Merinduku ya? Maaf, bila sedikit waktu yang bisa kulewati denganmu. Bukan mengada-ngada, berbagai kegiatan memerangkapku tanpa jeda. Kau paham bukan? Menjadi sukses tak memperbolehkan kita berleha-leha.

Maka maafkanlah bila seolah aku begitu mengabaikanmu. Jangan artikan dengan begitu aku lupa atau sudah tidak menyayangi lagi. Ini sementara, berdoalah untuk kelak saatnya kita akan dimampukan selalu bersama.”
Begitulah saya, tanpa bicara kadang suara hati berucap lebih banyak,

hanya mereka yang tulus,

yang akan berhasil menembus,

dan mereka yang menyukai sunyi,

yang akan begitu mengerti.
Karena saya membenci berisik,

tidak suka hingar bingar dan ramai.

Maka kalau rindu,

temui saya dalam hatimu yang paling damai,

dalam ruang paling diam.
Cianjur, 18 Maret 2017

03.43

Elegi Kita

Berjalanlah kemanapun hendak menuju,

pergi atau pulang nyaris tak berlainan,

berpisah atau tetap tinggal bukan lagi penghalang,

dekat atau jauh sekedar banyaknya jarak tempuh,

karena kemuliaanku yang kau jaga,

membuatku lebih dari berarti,

melainkan merasa sangat berharga.
Dalam dekat kita menjaga batas sebagai sekat,

dalam jauh kita berjabat dalam tengadah doa yang terpanjat.
Maka perihal segala lebur dalam satu kita,

dalam detak yang sama,

kau dan aku,

hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Cianjur, 17 Maret 2017

09.04

Sekelumit tentang Kebaikan

Saat pekerjaan begitu menyita waktuku, seharian berkutat di depan monitor, angka-angka, kwitansi dan nota. Sesekali menjelang petang beberapa orang di tempat kerjaku kerap terlibat perbincangan ringan. Seperti kali ini, bahasannya, tentang rekan kami yang baru saja ditinggalkan oleh Ibunya yang menghadap Allah SWT (baca: meninggal).
Memang perbincangan kami tampak biasa, mengalir ringan, mengomentari rekan kami yang amat terpukul dengan kepergian ibunya tersebut. Wajar menurut saya, tempo hari saya pun mengalami hal itu, ditinggal pergi oleh Ibu dan rasanya memang tidak karuan. Kemudian rekan saya yang lain menimpali sehubungan dengan pengalamannya ditinggal oleh seorang ayah. Kemudian banyak lagi yang saling menambahkan.
Yang membekas di ingatan saya tentang kepergian, kehilangan, dan ketiadaan. Ada seorang rekan saya menegaskan, semua kita adalah sementara, kepastian kita memang tiada (maksudnya: semua pasti meninggal), kita pasti mengalaminya. Perkara siapa yang lebih dulu, itu urusan Tuhan. Meratapi seseorang yang pergi jangan terlalu berlarut-larut dan kelamaan. Satu hal yang harus membangunkan kita dari segala ratapan tersebut, kita harus bangkit dan memanfaatkan waktu untuk kebaikan. Mendoakan mereka yang pergi dan menguatkan diri untuk menghadapi keberlanjutan hidup sepeninggalnya. Karena apa? Yang pergi sedianya mereka sudah istirahat tenang di alam penantian menuju penghitungan, sedang kita disini masih harus berjuang membaikkan diri dan berketetapan dalam kebenaran. Tantangan kita banyak, ujian kita barangkali akan lebih hebat, maka tak ada alasan untuk merapuh, kita harus tegar dalam kebaikan. Karena sekalinya kita menyimpang, berbuat tidak baik dan berdosa, itulah sebenar-benar pemisah. Bukankah akhir kita hanya dua, ialah surga dan neraka. Tugas kita adalah mengingatkan entah pada diri sendiri atau yang lain, tentang akhir kita tersebut yang harus dipersiapkan dari sekarang. Sedianya kita tetap menjaga diri dalam kebaikan, tak ada batas dan pemisah sebenarnya (bahkan kematian) karena kelak akan kembali berkumpul dan disatukan dalam surga entah sebagai siapapun kita. InshaAlloh, aamiin…

Itu janji Alloh dalam Al-Qur’an tegas rekan saya lagi sebagai penutup.
Saya termenung, karena pernyataannya sangat menginspirasi, dimana apapun tak jadi pemisah, entah jarak atau waktu bahkan kematian, sedianya kita akan kembali bersatu bila terus berupaya berjuang tetap dalam kebaikan dan saling mengingatkan bila kita khilaf.
Saya sangat sepakat dengan itu. Bukankah semua yang ada di dunia ini fana? Bahkan orang tua yang paling mengasihi kita dan sangat kita cintai bisa pergi ketika Tuhan mnghendaki, apalagi seseorang yang sekedar pernah tinggal dalam perasaan, bukan hal yang mustahil bila dia dikemudian hari harus berpasangan dengan yang lain di pelaminan. Ya, semua mungkin. Yang jelas semua hal jangan sampai membuat kita abai pada kebaikan, setiap kejadian ada hikmahnya, jangan mengizinkan kehendak syetan yang mendorong pada ketidakbaikkan. Karena apa? Berharaplah kelak di surga kita akan dipertemukan dengan segala kebaikan dan semua yang baik-baik yang Tuhan sediakan. Kalau memang dia yang ingin kau temui tak ada disana, barangkali dia memang tidak baik.
Cianjur, 15 Maret 2017

23.20

#meracaumalam

Tentang Cinta

Mencintalah dengan sederhana,

seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

Karena cinta yang berlebihan akan membutakan mata,

lantas menghadirkan air untuk menjernihkan pandangan.
Cianjur, 12 Maret 2017

02.27

Masa Lalu

Masa lalu dalam sebuah buku ibarat

halaman usang yang sudah harus dibuang,

dan sisihkan catatan-catatannya sebagai pelajaran.
Jangan terbelenggu dan terus berharap

mengalami hal tersebut berulang,

masa lalu hanya indah di kenang,

baik diambil pelajaran,

bukan memberatkan langkahmu menuju

kebaikan yang lebih banyak di masa depan.
Masa lalu tidak untuk dilupakan,

karena ingatan memiliki cara tersendiri

untuk menghapusnya,

barangkali keoptimisanmu akan menyambut hal baru,

akan menyesakkan masa lalu untuk

begitu saja terabaikan.
Mereka yang ada di masa lalumu,

sekedar pewarna,

entah sedih atau bahagia,

kita harus tetap tinggal di masa kini,

tidak untuk selalu menginginkan masa lalu kembali.
Beranjaklah dan sambut setiap hari dengan bersangka baik,

dan berbahagialah dengan apa adanya yang harus selalu kita syukuri.
Cianjur, 11 Maret 2017

11.18